Rabu, 22 Januari 2014 | 11:54
Cuaca Ekstrem Membuat Jakarta Sulit Terhindar dari Banjir
<a href='http://ad.beritasatumedia.com/b1-ads/www/delivery/ck.php?n=abaf59d0&cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE' target='_blank'><img src='http://ad.beritasatumedia.com/b1-ads/www/delivery/avw.php?zoneid=59&cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE&n=abaf59d0' border='0' alt='' /></a>
Jakarta -
Jakarta sangat mustahil bebas banjir karena cuaca ekstrem yang terus
berubah. Setidaknya pemerintah pusat maupun daerah memiliki program
mengurangi dampak banjir baik di hulu maupun di bagian hilir.
“Saya tidak bisa membayangkan berapa biaya yang harus dikeluarkan pemerintah untuk mengatasi banjir Jakarta. Dana yang sangat menguras APBN maupun APBD. Namun, ini harus dilakukan untuk menjaga wajah Negara ini tetap baik di mata dunia,” ujar Pakar tata air ITB Indratmo menyatakan, Indratmo kepada SP di Jakarta, Rabu (22/1).
Menurut Indratmo, pembangunan sodetan Ciliwung ke Cipinang mampu mengurangi banjir 15 persen. Sementara bila kapasitas Waduk Ciawi 15 juta kubik akan mengurangi dampak banjir sekitar 30 persen.
“Inilah yang merupakan pentingnya pendekatan struktural. Konsevasasi permukiman atau villa di kawasan Puncak. Intinya bagaimana mengurangi debit air dari kawasan puncak,” katanya.
Dia menekankan mendesaknya drainase di Jakarta dinormalisasi. Dari sisi masyarakat kota Jakarta harus ikut partisipasi seperti membuat sumur resapan. Dari Utara Jakarta masyarakat harus menghentikan penggunaan air tanah. Untuk itu perlu penindakan terhadap industri yang mengambil air tanah.
“Saat ini yang penting adalah konsistensi pemerintah dalam mengatasi banjir Jakarta. Yang penting ada program yang jelas dan dilaksanakan. Mungkin setipa tahun risiko banjir bisa dikurangi 10 persen dan dalam 10 tahun hasilnya bisa kita lihat,” ucapnya.
“Saya tidak bisa membayangkan berapa biaya yang harus dikeluarkan pemerintah untuk mengatasi banjir Jakarta. Dana yang sangat menguras APBN maupun APBD. Namun, ini harus dilakukan untuk menjaga wajah Negara ini tetap baik di mata dunia,” ujar Pakar tata air ITB Indratmo menyatakan, Indratmo kepada SP di Jakarta, Rabu (22/1).
Menurut Indratmo, pembangunan sodetan Ciliwung ke Cipinang mampu mengurangi banjir 15 persen. Sementara bila kapasitas Waduk Ciawi 15 juta kubik akan mengurangi dampak banjir sekitar 30 persen.
“Inilah yang merupakan pentingnya pendekatan struktural. Konsevasasi permukiman atau villa di kawasan Puncak. Intinya bagaimana mengurangi debit air dari kawasan puncak,” katanya.
Dia menekankan mendesaknya drainase di Jakarta dinormalisasi. Dari sisi masyarakat kota Jakarta harus ikut partisipasi seperti membuat sumur resapan. Dari Utara Jakarta masyarakat harus menghentikan penggunaan air tanah. Untuk itu perlu penindakan terhadap industri yang mengambil air tanah.
“Saat ini yang penting adalah konsistensi pemerintah dalam mengatasi banjir Jakarta. Yang penting ada program yang jelas dan dilaksanakan. Mungkin setipa tahun risiko banjir bisa dikurangi 10 persen dan dalam 10 tahun hasilnya bisa kita lihat,” ucapnya.
No comments:
Post a Comment